Pertanyaan Meninggalkan solat 5 waktu


Selama beberapa tahun saya telah meninggalkan sholat lima waktu. Sekarang saya sudah menyadari kesalahan saya itu dan saya ingin tobat kepada Allah. Bagaimana dengan sholat-sholat yang telah saya tinggalkan itu, apakah saya wajib menggantinya? Bagaimana caranya?

Jawaban:
Sebelum saya menjawab pertanyaan di atas terlebih dahulu saya mengucapkan puji syukur kepada Allah yang telah memberikan hidayah dan melimpahkan kepada penanya karunia-Nya yang sangat besar. Semoga karunia yang sama akan diberikan pula kepada saudara-saudara kita yang lain yang masih mengabaikan kewajiban-kewajibannya sebagai hamba Allah.
Ibadah sholat adalah salah satu rukun Islam yang utama yang tidak ada alasan apapun untuk boleh ditinggalkan. Berbeda dengan ibadah puasa yang boleh ditinggalkan dalam keadaan sakit atau sedang dalam perjalanan, demikian pula ibadah zakat dan haji yang diwajibkan hanya atas orang-orang muslim yang mampu saja. Tidak ada perbedaan pendapat di antara para ulama bahwa apabila seseorang yang mengaku muslim meninggalkan sholat karena mengingkari kewajibannya maka dia dinyatakan sebagai orang yang telah kafir. Sedangkan seseorang yang meninggalkannya karena kemalasan dan kelalaiannya maka menurut mayoritas ulama dia dinyatakan sebagai orang fasik yang menurut Imam Malik dan Imam Syafi’i dapat dijatuhi hukuman mati.
Persoalan mengqodho sholat lima waktu menurut mayoritas ulama menjadi kewajiban setiap orang yang meninggalkannya di samping ia menanggung dosa besar karena telah mengabaikan kewajiban yang paling utama dalam rukun Islam. Dengan demikian orang tersebut mempunyai dua macam beban dan tanggung jawab. Pertama beban dosa karena telah membiarkan waktu sholat berlalu tanpa ia isi dengan sholat pada waktunya, kedua beban dosa karena telah meninggalkan sholat itu sendiri. Ilustrasinya bagaikan seseorang yang berhutang dan berjanji akan melunasinya pada tanggal satu Januari. Akan tetapi pada tanggal yang sudah ditentukan itu ia tidak memenuhi janjinya maka ia menjadi punya dua beban, yaitu pertama kesalahannya karena waktu yang dia janjikan sendiri telah berlalu tanpa ia lakukan apa yang menjadi tanggung jawabnya, kedua hutangnya yang tetap harus dia lunasi. Maka selain dia harus meminta maaf kepada pemilik piutang atas kegagalannya memenuhi janjinya dia tetap harus melunasi hutangnya. Demikian pula ibadah sholat, orang yang telah meninggalkannya harus tobat dan memohon ampunan Allah atas kelalaian dan kemalasannya di samping ia harus mengqodho atau melunasi kewajiban yang ia tinggalkan.
Bagaimana menghitung jumlah sholat yang telah ditinggalkannya dan bagaimana cara mengqodhonya?
Seseorang yang telah meninggalkan sholat harus mengingat-ingat sejak kapan dan berapa lama ia tidak melaksanakan sholat. Umpama dia sudah tidak sholat lagi sama sekali selama dua bulan atau mungkin sampai tiga tahun, ketika dia akan mengqodhonya tidak perlu menghitung berapa jumlah sholat yang sudah ia tinggalkan. Akan tetapi dia mulai mengqodho dengan cara setiap waktu sholat dia melaksanakan sholat dua kali, sholat yang pertama ia lakukan untuk yang punya waktu sedangkan sholat yang kedua ia lakukan sebagai qodho. Contohnya, apabila tiba waktu zuhur ia melaksanakan sholat zuhur. Setelah selesai sholat zuhur tersebut ia sholat zuhur lagi dengan niat qodho. Demikian pula pada waktu ashar, maghrib, dan seterusnya sampai selama dua bulan, atau tiga tahun kalau memang lalainya sampai tiga tahun. Dia dapat mempersingkat masa mengqodho sholat hingga satu tahun saja dengan cara setiap waktu sholat dia mengqodho tiga sholat yang sama. Seperti pada waktu zuhur setelah selesai melaksanakan sholat zuhur yang punya waktu ia sholat zuhur dengan niat qodho sebanyak tiga kali, demikian pula pada waktu ashar, maghrib, dan seterusnya.
Seandainya jumlah sholat yang ia qodhokan melebihi jumlah sholat yang ia tinggalkan maka kelebihannya itu tidak akan sia-sia, akan tetapi akan dicatat sebagai sholat-sholat sunnatnya.
Dalam kesempatan ini perlu ditambahkan tentang persyaratan tobat yang benar atau yang disebut tobat nasuha :
Pertama: Berhenti melalaikan sholat atau menghentikan diri dari perbuatan maksiat, karena seseorang tidak dapat dikatakan tobat selama ia masih melakukan kemaksiatan.
Kedua: Menyesali kelalaiannya dalam menjalankan kewajiban sholat atau menyesali perbuatan maksiat yang telah ia lakukan, karena orang yang tidak menyesali kesalahannya berarti ia menyenangi kemaksiatan yang ia lakukan.
Ketiga: Bertekad kuat dan bulat untuk tidak mengulangi kemaksiatan yang sama yang pernah ia lakukan.
Kemudian orang yang bertobat harus memperbanyak segala macam perbuatan-perbuatan baik agar kebaikan-kebaikan itu dapat menutupi bahkan menghapus dosa-dosanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: