Tahlil


Menyelenggarakan kegiatan pembacaan Al Qur’an, melafalkan dzikir : Tahlil, Tasbih , Tahmid, Sholawat dan berbagai dzikir lainnya kemudian menghadiahkan pahalanya kepada orang-orang yang telah meninggal dunia, sudah menjadi kebiasaan masyarakat Islam di berbagai Negara. Lantunan surat Yasin dan surat-surat lain dalam al Qur’an serta gemuruh tahlil dari lisan para peziarah, bukanlah pemandangan yang asing ketika kita memasuki sebuah rumah yang sedang berduka atau pemakaman.

Dengan khusyu’ , kerendahan hati dan prasangka baik kepada Allah yang maha Pemberi dan maha Pengampun, para ta’ziah atau pun peziarah melantunkan ayat-ayat suci dan kalimat dzikir. Mereka yakin, perbuatan tersebut akan bermanfaat bagi peziarah maupun yang diziarahi. Keyakinan seperti ini telah mengakar dalam diri setiap peziarah. Kebiasaan ini selanjutnya oleh masyarakat disebut sebagai Tahlilan.

Sayangnya, banyak orang yang belum mengetahui landasan hukumnya, sehingga tidak mau ikut serta dalam acara tersebut dan bahkan menentangnya. Oleh karena itu…

perlu kiranya landasan hukum amalan Tahlil dipahami.

Pembacaan Al Qur’an, Tahlil , Tasbih, Tahmid dan Sholawat merupakan salah bentuk dzikir kepada Allah SWT. Dan Allah telah memerintahkan kita semua untuk berdzikir kepada Allah SWT sebanyak mungkin dalam segala keadaan, berdiri,duduk maupun berbaring.

Dzikir merupakan salah satu sarana ibadah yang dapat mendekatkan seorang hamba kepada Allah secara cepat. Sayangnya, di saat dan tempat di mana manusia seharusnya lebih banyak berdzikir, mereka justru lalai dan tenggelam dalam kenikmatan duniawi. Di hadapan sesosok mayat, di pekuburan, di masjid, saat ini seringkali terdengar pembicaraan bisnis.

Di akhir jaman ini banyak orang yang tidak dapat memetik pelajaran dari sesosok jenazah yang terbujur kaku. Di hadapannya justru banyak orang yang berbincang-bincang tentang urusan duniawi, tidak berdzikir, apalagi membaca Al Qur’an. Padahal Allah memerintahkan kita untuk mengingat kematian, untuk mengingatNYA

Dari pada duduk diam tanpa arti, atau berbicara yang tidak bermanfaat, mengucapkan kalimat yang tidak berpahala di hadapan jenazah saudara kita sesama muslim, alangkah baiknya jika kita gunakan kesempatan tersebut untuk berdzikir kepada Allah dengan membaca al Qur’an, Tahlil, Tasbih, Tahmid , Sholawat dan berbagai bentuk dzikir lainnya. Paling tidak, orang yang berdzikir dan umat Islam yang hadir di sana mendapat manfaat darinya.

Usman bin Affan ra. berkata : “ Dahulu, setelah jenazah dikebumikan, Rasulullah saw, berdiri di depan makam dan bersabda : “ Mintakanlah ampun bagi saudara kalian ini, dan berdoalah agar ia diteguhkan ( dalam menjawab pertanyaan Malaikat ), sebab, saat ini ia sedang ditanya “ (HR Abu Dawud )
Hadis di atas mengajarkan agar kita mendoakan dan beristighfar memohonkan ampun bagi saudara-saudara kita yang telah meninggal. Jika istighfar dianjurkan, maka bentuk dzikir lainnya pun boleh dilakukan, sebab tidak ada Hadist yang melarangnya. Kita dianjurkan untuk berdzikir di manapun kita berada.
Tentang membaca al Qur’an di hadapan jenazah atau makam, Rasulullah saw bersabda : “ Bacakanlah surat Yasin kepada orang-orang yang meninggal dunia di antara kalian “ ( HR Abu Dawud dan Ibnu Majah )

Abdullah bin Abbas ra. Menjelaskan : “ Pada suatu hari bersama sejumlah sahabat, Rasulullah saw.melewati dua buah makam. Rasulullah saw bersabda : “ Kedua penghuni makam ini sesungguhnya sedang disiksa, dan keduanya disiksa bukan karena dosa besar ( dalam pandangan mereka ) penghuni makam yang satu ini semasa hidupnya ketika buang air kecil tidak menutupi dirinya, sedangkan yang lain suka mengadu domba.” Kemudian Rasulullah saw.mengambil sepotong pelepah daun korma yang masih basah dan membaginya menjadi dua. Setelah itu beliau menanamnya pada setiap makam. Para sahabat lantas bertanya : “ Wahai Rasulullah mengapa engkau melakukan hal ini ? Rasulullah saw menjawab : “ Semoga Allah meringankan siksa keduanya selama kedua pelepah korma tersebut belum kering “ ( HR Bukhori, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i , Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad )

Jika pelepah kurma dapat meringankan siksa seseorang, maka pembacaan Al Qur’an tentunya lebih utama. Umar bin Khattab ra berwasiat sebelum meninggal agar setelah selesai penguburan dibacakan untuknya pembukaan dan penutupan surat Al Baqoroh, tepat di samping kepala beliau.

Jelaslah bahwa pembacaan Al Qur’an di depan sebuah makam bukanlah sebuah perbuatan yang mengada-ada. Di samping tidak ada ayat maupun Hadist yang melarangnya, paling tidak kita akan mendapat manfaat antara lain :
1. pembacanya mendapat pahala
2. pendengarnya akan segan untuk membicarakan hal-hal yang tidak bermanfaat dan akan ikut mendengarkan serta membaca ayat yang dilantunkan
3. di tempat tersebut akan turun rahmat sehingga bermanfaat bagi kaum muslimin yang terkubur di sana

Bahwa dalam kegiatan Tahlil, kemudian diniatkan menghadiahkan pahalanya kepada orang-orang yang telah meninggal dunia, sementara beberapa orang mengatakan bahwa amal saleh seseorang tidak dapat dikirimkan kepada orang lain. Mereka menggunakan dasar alasan Ayat Al Qur’an surat AnNajm ayat : 39 yang artinya : Dan bahwasannya seorang manusia tidak akan memperoleh selain apa yang telah diusahakannya “

Ayat ini sering dijadikan dalil bahwa pahala amal saleh seseorang tidak dapat dikirimkan ( dihadiahkan) kepada muslim lainya. Menurut Ibnu Abbas ra, ayat 39 surat an Najm di atas telah di-mansukh oleh ayat 21 surat Thur yang artinya : “ Dan orang-orang yang beriman yang diikuti oleh keturunannya dengan keimanan, Kami hubungkan (kumpulkan) keturunannya itu dengan mereka (di dalam Surga) ; dan Kami (dengan itu) tidak mengurangi sedikitpun dari pahala amal-amal mereka “ surat Thur, ayat : 21 )

Dalam surat Thur ayat 21 di atas dinyatakan bahwa anak-anak cucu yang mengikuti leluhurnya dengan keimanan akan diletakkan di tempat yang sama meskipun tidak memiliki bekal amal yang sama. Mereka mendapat kedudukan yang tinggi berkat amal orang tuanya (leluhurnya)

Surat anNajm ayat: 39 yang sering dijadikan dalil pahala tidak dapat dikirimkan kepada orang lain, sebenarnya ayat ini turun untuk menjelaskan bagaimana syariat Nabi Musa dan Nabi Ibrohim. Dalam ayat-ayat surat anNajm sebelumnya dijelaskan:yang artinya : “ Ataukah belum diberitahukan kepadanya apa yang terdapat dalam lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janjinya, (yaitu ) bahwa seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain dan bahwasannya seorang manusia tidak akan memperoleh selain apa yang telah diusahakannya “ (An-Najm 36-39)

Dalam syariat kedua Nabi tersebut, seseorang hanya akan mendapatkan pahala dari amalnya sendiri, sedangkan dalam syariat Nabi Muhammad saw, mereka akan mendapatkan pahala amal mereka dan juga pahala amal orang lain yang diniatkan untuk mereka.

Surat AnNajm 39 ditujukan untuk orang kafir. Di dunia ini mereka akan mendapatkan balasan atas amal baik mereka, sehingga di Akherat nanti sudah tidak memiliki kebaikan lagi. Sebagaimana diriwayatkan bahwa ketika Abdullah bin Ubay ( pemimpin orang-orang munafik ) meninggal dunia
Rasullullah saw memberikan pakaian beliau untuk dijadikan kain kafannya. Hal ini dilakukan karena dahulu Abdullah bin Ubay pernah menghadiahkan pakaiannya kepada Sayidina Abbas ra, paman Rasulullah saw. Sehingga di akherat nanti Abdulah bin Ubay tidak memiliki kebaikan lagi. Lain halnya dengan seorang mukmin, ia akan mendapatkan pahala atas amalnya dan amal orang lain yang ditujukan untuknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: