Kalau Harta Dunia Sudah Jadi Tuhan


aat ini cerita-cerita dunia semakin liar saja. Kisahnya berseliwerang di sekitar dan tiap sudut hidup kita. Pelakunnya pun tidak tanggung-tanggung. Mulai dari pemegang jabata n hingga rakyat jelata. Orang sudah tidak takut lagi berbuat dosa. Bahkan dengan senang hati menjadikannya sebagai tradisi dengan alasan tidak ada jalan lagi untuk memperoleh yang halal.alt

Akibatnya, cara-cara haram dan kotor pun ditempuhnya hanya untuk memuaskan hawa nafsu sesaat saja. Memang secara umum pada dasarnya harta itu -secara zat halal hukumnya untuk diperlakukan bagaimana pun juga. Tapi ia bisa berubah menjadi ‘monster’ ketika sudah disalah gunakan penggunaannya. Apatah lagi jika penggunaan itu dilakukan dalam rangka untuk membebaskan diri dari jeratan hukum yang berlaku di tengah-tengah masyarakat yang sangat menjunjung tinggi hukum dan norma-norma positif. Tentu saja hal ini jika tidak segera dihentikan malah akan menjadi bumerang yang akan menyebabkan kelatahan massal melakukan perbuatan nista.

Dalam al-Qur’an Allah menyebutkan bahwa harta itu bisa menjadi nikmat dan bisa juga menjadi niqmah (bencana). Harta akan menjadi nikmat apabila diperoleh dan kemudian digunakan untuk kebaikan. Apapun itu sebutan untuk kebaikannya. Yang penting benar  menurut kacamata Allah swt. Harta yang baik dan didapatkan oleh seorang yang shaleh dan baik, Insya Allah akan memberikan output keberkahan. Baik keberkahan dunia ataupun keberkahan akhirat. Pelakunya di dunia akan merasakan ketenangan batin, kelapangan dada dan tidak dihantui perasaan was-was dan tidak takut hartanya itu hilang dan lenyap. Karena semuanya sudah ia pasrahkan kepada Sang Pemilik harta itu.

Sebaliknya, harta apabila diperoleh dengan cara-cara yang kotor dan dipergunakan untuk hal-hal yang kotor dan juga hal-hal yang baik, maka yang lahir adalah bencana. Pelakunya akan merasa tidak tenang, khawatir hartanya lenyap, dihantui perasaan berdosa dan jiwanya penuh stress. Mengapa demikian? Karena perbuatan kotornya itu bertentangan dengan fitrahnya yang memang dari sananya mencintai kebaikan dan nilai-nilai positif.

Fitrah yang ada pada jiwa manusia merupakan bentuk dari titipan Allah kepada setiap manusia. Ia akan tertutup ketika ditutupi oleh hal-hal yang negatif dan tidak sesuai dengan perintah-Nya. Inilah sunnatullah itu.

Berbagai kasus-kasus kotor yang sedang ramai di sekitar kita menunjukkan bahwa harta dunia yang jumlahnya dalam bilangan yang sangat besar bisa mempengaruhi si pelakunya. Baik itu terhadap dirinya sendiri, keluarganya dan orang-orang terdekatnya.

Saya jadi teringat dengan hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan secara shahih bahwa Daging yang tumbuh dari harta yang haram, maka nerakalah tempat yang cocok baginya.

Astaghfirullahal azhimm..

Lalu, kira-kira berapa milyar sudah harta yang didapatkan dan kemudian dialokasikan? Berapa banyak orang-orang sekitar yang terkena dampak dosanya itu? Tak terhitung.  Berapa pula orang-orang tak berdosa harus meregang kematian lantaran tidak bisa mencukupi kebutuhan hidupnya karena sebagian rejeki mereka seret dan tersedot oleh koruptor-koruptor itu? Sungguh, dosa besar yang sangat besar. Karena wilayah dosanya tidak lagi mencakup urusan individu. Tapi menjalar ke wilayah publik dan sangat merugikan orang lain.

Jika fitnah harta ini tidak ada penyelesaian dan solusinya, maka dikhawatirkan kelak akan menjadi bom waktu yang menular ke segenap lapisan masyarakat yang bersih dan tidak suka dengan perbuatan dosa ini.

Sungguh, godaan hidup yang tidak ringan memang. Siapapun bisa terkena. Oleh karena itu, sekali lagi mari kita intropeksi diri. Apakah benih-benih fitnah dan dosa itu ada pada diri kita? Setiap kita pasti terkena efeknya, meski dalam skala yang ringan dan tidak seberapa.

Tapi di mata Allah, walaupun kadarnya ringan, sadar atau tidak sadar itu berpengaruh pada diri, keluarga dan kerabat kita. Setidaknya itu efek negatif yang merugikan kita.

Mari kita bercermin diri pada kehidupan sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq yang langsung memasukkan jari tangannya ke dalam mulutnya untuk merangsang keluarnya makanan yang -secara tidak sengaja- pernah termakan olehnya dari harta yang syubuhat atau tidak jelas kehalalannya.

Dari harta yang halal, Insya Allah segala persoalan hidup menjadi lebih baik. Bagi otak, hati, daging, jiwa dan inderawi kita lainnya.

Wallahu a’lam bish-showab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: