Assalamu’alaikum. Bagaimana biar diri kita enteng dalam menjalankan ibadah kepada Allah?

19 Februari, 2011

Jawaban:
Ada hubungan sebab akibat antara maksiat dan ibadah. Perbuatan maksiat akan membuat seseorang terasa berat untuk ibadah kepada Allah. Dalam sebuah riwayat shahih Rasulullah bersabda: “Seorang hamba akan terhalang rizkinya karena dosa yang diperbuatnya”. Rizki itu meliputi seluruh karunia Allah seperti harta, kesehatan, kesejahteraan hidup, ketenangan batin, keharmonisan rumah tangga, bakti anak kepada orang-tuanya, dan sebagainya termasuk keringanan langkah untuk beribadah kepada Allah. Oleh karena itu untuk dapat dengan mudah melakukan ibadah kepada Allah harus ada upaya maksimal dari dalam diri sendiri untuk melakukannya karena kemauan beribadah tidak muncul di dalam diri seseorang dengan sendirinya. Selain itu harus menghindar dari perbuatan-perbuatan maksiat dan menjaga cara-cara kerja (dalam mencari nafkah) yang diharamkan oleh Allah. Dalam sebuah riwayat shahih Rasulullah bersabda “Tidak akan masuk sorga manusia yang tumbuh dari makanan yang haram, neraka lebih cocok baginya”. Makanan dan fasilitas hidup yang dibeli dengan uang haram akan memberatkan penggunanya untuk beribadah kepada Allah. Bahkan kalaupun dia melakukan ibadah Allah akan menolaknya. Sebaliknya, langkahnya akan mudah dan ringan untuk melakukan perbuatan-perbuatan maksiat dan bersekutu dengan setan.


Assalamu’alaikum. Saya kalau shalat jamaah zhohor atau ashar suka ketinggalan bacaan karena sang imam sudah keburu ruku’, sah tidak shalat saya?

19 Februari, 2011

awaban:
Jawaban: Makmum yang masbuq artinya makmum yang tidak punya waktu cukup antara takbiratul ihram sang makmum dengan ruku’nya imam untuk menyelesaikan bacaan surah al-Fatihah. Makmum yang masbuq dibolehkan ruku’ bersama imam tanpa harus menyelesaikan bacaan al-Fatihahnya dan dia mendapatkan raka’at tersebut. Akan tetapi apabila makmum yang masbuq tidak sempat untuk ruku’ dan thuma’ninah pada saat imam masih ruku’ maka makmum tersebut belum mendapatkan raka’at tersebut sekalipun dia telah ruku’ karena ruku’ yang demikian itu tidak terhitung.Shalat makmum yang demikian itu tetap sah hanya harus menambah raka’at yang tertinggal.


Assalamu’alaikum. Bolehkah kita tahajjud tapi tidak tidur dulu, bolehkah begitu bangun malam kita tidak langsung tahajjud tapi minum dulu, bolehkah usai tahajjud kita berdo’a meminta lebih dari satu permintaan?

19 Februari, 2011

Jawaban:
Shalat tahajjud artinya setiap shalat sunnat yang dilakukan setelah bangun tidur pada malam hari. Sedangkan kalau shalat sunnat itu dilakukan tanpa didahului dengan tidur atau tidurnya sebelum melaksanakan shalat isya’ maka shalat sunnat atau ibadah yang demikian itu disebut qiyamullail. Tidak menghilangkan keutamaan tahajjud ketika bangun tidur ia makan atau minum sebelum melaksanakan shalat-shalat sunnat. Allah menganjurkan para hamba-Nya untuk berdo’a kepada-Nya meminta segala kebutuhan hidupnya. Sepertiga malam terakhir adalah saat yang mustajab untuk berdo’a, oleh karena itu silakan pada saat itu berdo’a sebanyak-banyaknya


Assalamu’alaikum. Saya lagi sakit batuk-batuk, dah gitu setiap batuk saya selalu mengeluarkan air pipis, dosakah saya kalau meninggalkan shalat karena hal itu?

19 Februari, 2011

Jawaban:
Shalat adalah kewajiban yang paling utama yang tidak boleh ditinggalkan dalam kondisi apapun. Ketika seseorang sakit sehingga tidak mampu berdiri untuk shalat ia mengerjakannya sambil duduk, apabila tidak mampu duduk ia melakukannya sambil berbaring dan membaca bacaan-bacaan shalat, apabila tidak mampu berbaring ia melakukannya dengan posisi terlentang. Kalau seseorang sedang mengalami sakit seperti sakit beser yaitu penyakit yang membuatnya terus menerus mengeluarkan (meneteskan) air pipis, atau penyakit yang membuatnya terus menerus mengeluarkan angin, atau wanita yang mengalami istihadhah yaitu mengeluarkan darah di luar waktu haid maka bagi mereka ada cara khusus untuk melaksanakan shalatnya. Mereka baru boleh berwudhu setelah masuk waktu shalat. Sebelum berwudhu mereka harus terlebih dahulu membersihkan najis (air pipis atau darah) kemudian menggunakan pembalut pada tempat keluar najis itu agar tidak mengenai pakaian shalat mereka. Setelah itu berwudhu dan langsung melaksanakan shalat tanpa menunda-nunda lagi. Kalau najis itu keluar pada waktu shalat hal itu terjadi di luar kemampuan kendali orang yang bersangkutan dan boleh diabaikan. Ketika akan melaksanakan shalat yang berikutnya mereka melakukan hal yang sama seperti di atas


Assalamu’alaikum. Bagaimana cara shalat qadha dan berapa raka’at?

19 Februari, 2011

Jawaban:
Shalat adalah kewajiban yang paling utama atas setiap muslim dan tidak boleh ditinggalkan dalam kondisi apapun, baik sakit maupun dalam kondisi ketakutan yang mencekam karena situasi sedang genting. Apabila seseorang sedang sakit dan tidak mampu berdiri ia diperbolehkan melaksanakan shalat sambil duduk, apabila tidak mampu duduk ia dapat melakukannya sambil berbaring, apabila tidak mampu berbaring ia boleh melakukannya dengan posisi terlentang. Demikian pula dalam perjalanan jarak jauh diperbolehkan melakukan shalat dengan cara menjamak dan mengqasharnya atau menggabungkan dua shalat dalam satu waktu dan meringkas jumlah raka’atnya sehingga yang biasanya dilakukan empat raka’at boleh dilakukan hanya dengan dua raka’at saja dengan syarat-syarat tertentu. Apabila seseorang ketiduran yang sangat nyenyak dan tidak terjaga sama sekali sehingga salah satu waktu shalat atau lebih dari satu waktu terlewatkan ia wajib melaksanakan shalat yang tertinggal itu segera ketika ia terjaga dari tidurnya dengan niat qadha karena shalat yang dilakukan itu sudah keluar dari waktunya. Demikian pula kalau ia terlupa. Apabila itu dilakukan maka terbebaslah dirinya dari beban kewajiban shalat, semoga Allah menerima shalatnya. Rasulullah bersabda: “Barang siapa tertidur sehingga tidak shalat atau terlupakan maka ia wajib melaksanakan shalatnya ketika ia terjaga atau ketika ia teringat” (Hadits shahih riwayat Tirmidzi). Bagaimana kalau seorang muslim dengan sengaja meninggalkan kewajiban shalatnya? Apabila ia meninggalkan shalat dengan alasan sudah tidak wajib lagi atas dirinya karena dia merasa sudah mencapai tingkat keislaman tertentu maka orang tersebut dihukumkan sebagai orang yang sudah murtad atau keluar dari agama Islam. Semoga Allah melindungi diri kita semua dari kemurtadan. Sedangkan apabila alasan meninggalkannya karena malas atau karena merasa ada kesibukan-kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan atau karena sakit dan sebagainya maka orang seperti itu tidak menjadi murtad akan tetapi menjadi muslim yang fasik. Kedua macam orang tersebut apabila ia ingin tobat dan kembali ke jalan Allah ia wajib mengganti atau mengqadha semua shalat yang telah ia tinggalkan. Mungkin ia telah meninggalkan shalat selama satu bulan, atau satu tahun atau bahkan lebih sehingga bertahun-tahun ia tidak shalat sama sekali. Orang seperti itu seharusnya menggunakan seluruh waktu yang ada untuk mengqadha semua shalatnya berapapun jumlahnya dan tidak boleh mengerjakan pekerjaan apapun kecuali pekerjaan-pekerjaan yang penting yang berkaitan langsung dengan kelangsungan hidupnya. Namun beban seperti itu akan membuat sebagian besar orang yang punya hutang shalat berat untuk melaksanakan qadha shalat sehingga bukan hanya tidak mau mengqadha shalat-shalat yang lalu, bahkan bisa menjadikannya meninggalkan shalat sama sekali. Berdasarkan pertimbangan seperti di atas dan mengacu kepada landasan hukum syari’at Islam untuk memberikan kemudahan dalam situasi sulit maka pendapat saya untuk mengqadha shalat-shalat yang telah ditinggalkan ialah dengan melakukan shalat-shalat tersebut setelah melaksanakan shalat wajib pada waktunya masing-masing. Sebagai contoh, seseorang yang telah meninggalkan shalat selama satu tahun dan ingin mengqadhanya maka setiap kali ia selesai malaksanakan shalat seperti zhohor ia berdiri lagi dan melaksanakan shalat zhohor lagi dengan raka’at yang sama tapi dengan niat mengqadhanya, demikian pula shalat ashar, ia lakukan dua kali, yang pertama shalat ashar pada waktunya dan yang kedua shalat ashar untuk qadha. Demikian pula maghrib, isya’, dan subuh yang harus dilakukan selama satu tahun. Kalau dia melakukan setiap shalat qadhanya dua kali (qadha shalat zhohor dua kali, qadha shalat ashar dua kali demikian pula maghrib, isya’ dan subuh) maka ia butuh waktu enam bulan saja, kalau tiga kali qadha maka ia hanya butuh waktu empat bulan saja, demikian seterusnya.


Assalamu’alaikum. Kalau shalatkan lebih baik berjamaah tapi kalau takut timbul riya pada saat kita berangkat ke masjid bagaimana Pak?

19 Februari, 2011

Jawaban:
Timbulnya perasaan takut riya ketika hendak mengerjakan suatu kebaikan itu adalah bisikan setan untuk membuat orang yang bersangkutan mengurungkan niatnya melakukan kebaikan tersebut. Karena setan dengan berbagai cara menggoda manusia untuk tidak melakukan kebaikan dan mendorong mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang buruk. Pengertian riya itu ialah suatu pekerjaan yang dilakukan karena untuk mengharap pujian dari manusia, atau sengaja memperbaiki perbuatan tersebut karena ada orang yang melihatnya, kalau tidak ada yang melihatnya ia melakukannya secara biasa saja. Contohnya seseorang yang pergi ke masjid atau ke mushalla untuk shalat berjamaah dia menggunakan pakaian yang berbeda (lebih rapih/bagus) daripada kalau dia shalat sendirian di rumah. Allah memerintahkan kepada para hamba-Nya untuk berpenampilan yang bagus dan rapih setiap kali akan beribadah kepada-Nya, baik beribadahnya di rumah seorang diri maupun beribadahnya di tengah-tengah orang banyak, karena yang akan dia hadapi adalah Allah baik shalatnya di rumah maupun di masjid/mushalla. Penampilan yang berbeda ketika berjamaah sudah terdapat unsur riya dalam hal berpakaian, tapi mudah-mudahan bukan dalam hal berjamaahnya. Itu hanya contoh kecil saja untuk memudahkan pemahaman kita terhadap riya.


Saya kalo sholat bayangannya kemana-mana, gimana ya biar khusyu’?

19 Februari, 2011

Jawaban:
Esensi sholat adalah munajat kepada Allah Yang Maha Dekat. Saat-saat seperti ini adalah posisi yang sangat mulia karena kita sedang berhadapan dengan Yang Maha Mulia. Oleh karena itu untuk melaksanakannya harus didasari dengan semangat yang tinggi dan perhatian yang besar sehingga pada saat pelaksanaannya bisa tercapai kekhusyu’an. “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya”. (QS. Al- Mukminun: 1-2). “Peliharalah semua shalatmu, dan peliharalah shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah dalam shalatmu dengan khusyu’.” (QS. Al-Baqarah: 238).
Selama melaksanakan sholat harus diperhatikan bacaan-bacaan sholat dengan berusaha menyimaknya dan memahami setiap kata yang diucapkan agar pikiran kita bisa terkonsentrasi kepada gerakan dan bacaan-bacaan sholat. Hal seperti ini tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan, harus ada upaya dan kemauan untuk mempelajari arti dan makna bacaan-bacaan sholat serta kesungguhan untuk konsentrasi selama melaksanakan sholat. Abu Daud meriwayatkan sabda Rasulullah sebagai berikut: “Apabila seseorang melaksanakan sholat dengan baik, ia sempurnakan ruku’ dan sujudnya, sholat itu akan berkata: Semoga Allah memelihara dirimu sebagaimana engkau memeliharaku, kemudian sholat itu diangkat kepada Allah. Akan tetapi apabila seseorang tidak melaksanakan sholat dengan baik, ia tidak sempurnakan ruku’ dan sujudnya, sholat itu akan berkata: Allah akan menyia-nyiakan dirimu sebagaimana engkau menyia-nyiakan aku, kemudian sholat itu dilipat-lipat sebagaimana pakaian yang sudah lusuh dilipat-lipat lalu dilemparkan ke muka orang tersebut”.

Memang salah satu kekurangan kita adalah sering lupa dan lalai serta kehilangan konsentrasi. Akan tetapi menjadi kewajiban kita untuk selalu berusaha semaksimal mungkin mengatasi hal itu khususnya selama dalam melaksanakan sholat.

Di samping itu, ketika hendak melaksanakan sholat carilah tempat yang tidak akan mengganggu konsentrasi seperti adanya suara-suara, dan sebagainya. Selama melaksanakan sholat hendaknya jangan menoleh ke kanan, ke kiri, maupun ke atas, dan menahan dari gerakan-gerakan selain gerakan sholat. Ketika berdiri pandangan diarahkan ke tempat sujud, ketika ruku’ pandangan ke arah kaki, ketika sujud pandangan ke arah hidung, dan ketika duduk di antara dua sujud atau ketika duduk untuk tasyahhud pandangan ke arah paha. Dengan memperhatikan hal-hal seperti di atas selama sholat insyaallah lama kelamaan bisa dicapai kekhusyu’an di dalam sholat sehingga bisa tercapai hikmah dari sholat itu.

Di antara tanda-tanda orang yang sudah mencapai kekhusyu’an sholat ialah adanya keinginan yang besar untuk selalu berada dalam suasana sholat atau munajat kepada Allah dan ketika melaksanakan sholat ia merasakan kenikmatan yang luar biasa di dalam sholatnya sehingga ia lebih senang berlama-lama di dalam sholat. “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, yaitu orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”. (QS. Al-Baqarah: 45-46)