Doa Berlindung Dari Kekikiran dan Fitnah

22 Februari, 2011

 

Rasulullah Saw berdoa kepada Allah ; “ya Allah! aku berlindung kepadamu dari kekikiran, dari kemalasan, dari kepikunan, dari azab kubur, dari fitnah Dajjal, dan dari fitnah hidup dan mati”

(A uu’dzubika minal bukhli wal kasali, wa ardzalil umuri, wa a’dzaabil kubri, wa fitnatid dajjaali, wa fitnatil mahyaa wal mamaati)

Iklan

Shalat

22 Februari, 2011

Yang pertama-tama dipertanyakan (diperhitungkan) terhadap seorang hamba pada hari kiamat dari amal perbuatannya adalah tentang shalatnya. Apabila shalatnya baik maka dia beruntung dan sukses dan apabila shalatnya buruk maka dia kecewa dan merugi. HR. An-Nasaa’i dan Tirmidzi

 

2. Paling dekat seorang hamba kepada Robbnya ialah ketika ia bersujud maka perbanyaklah do’a (saat bersujud) (HR. Muslim)

3. Perumpamaan shalat lima waktu seperti sebuah sungai yang airnya mengalir dan melimpah dekat pintu rumah seseorang yang tiap hari mandi di sungai itu lima kali. (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Abdullah ibnu Mas’ud Ra berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, amal perbuatan apa yang paling afdol?” Beliau menjawab, “Shalat tepat pada waktunya.” Aku bertanya lagi, “Lalu apa lagi?” Beliau menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya lagi, “Kemudian apa lagi, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Berjihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari)

5. Yang kusenangi dari urusan duniamu adalah wanita dan wewangian dan dijadikan kesejukan mataku (sebagai biji mata) dalam shalat. (HR. An-Nasaa’i dan Al Hakim)

6. Shalat dua rakaat (yakni shalat sunnah fajar) lebih baik dari dunia dan segala isinya. (HR. Tirmidzi)

7. Barangsiapa meninggalkan shalat dengan sengaja maka dia kafir terang-terangan. (HR. Ahmad)

8. Suruhlah anak-anakmu shalat bila berumur tujuh tahun dan gunakan pukulan jika mereka sudah berumur sepuluh tahun dan pisahlah tempat tidur mereka (putera-puteri). (HR. Abu Dawud)

9. Shalat pada awal waktu adalah keridhoan Allah dan shalat pada akhir waktu adalah pengampunan Allah. (HR. Tirmidzi)

10. Barangsiapa lupa shalat atau ketiduran maka tebusannya ialah melakukannya pada saat dia ingat. (HR. Ahmad)

11. Ibnu Abbas Ra. berkata : Rasulullah Saw. pernah menjama’ shalat dzuhur dengan ashar dan maghrib dengan isya’ di Madinah tanpa disebabkan faktor ketakutan (khauf) atau hujan. Beliau ditanya apa sebabnya, lalu menjawab, “agar tidak menyulitkan umatnya.” (HR. Muslim).

Penjelasan:
Jika menghadapi soal yang sangat penting dan mendesak beliau pernah menjama’ walaupun bukan musafir.

12. Apabila seseorang mengantuk saat akan shalat hendaklah ia tidur sampai hilang ngantuknya, sebab bila shalat dalam keadaan mengantuk dia tidak menyadari bahwa ketika beristighfar ternyata dia memaki dirinya.(HR. Bukhari)

13. Janganlah melakukan shalat pada saat hidangan makanan sudah tersedia dan jangan pula memulai shalat dalam keadaan menahan kencing dan buang air (termasuk kentut). (HR. Ibnu Hibban)

14. Apabila diserukan untuk shalat datangilah dengan berjalan dengan tenang. Apa yang dapat kamu ikuti shalatlah dan yang tertinggal lengkapilah. (HR. Ahmad)

Penjelasan:
Tidak boleh tergesa-gesa dan berlari-larian menuju masjid.

15. Yang pertama-tama diangkat dari umat ini ialah khusyu’ sehingga tidak terlihat seorangpun yang khusyu’. (HR. Ahmad dan Ath-Thabrani)

16. Allah Ta’ala tetap (senantiasa) berhadapan dengan hambaNya yang sedang shalat dan jika ia mengucap salam (menoleh) maka Allah meninggalkannya. (HR. Mashabih Assunnah)

17. Allah ‘Azza wajalla berfirman (hadits Qudsi): “Tidak semua orang yang shalat itu bershalat. Aku hanya menerima shalatnya orang yang merendahkan diri kepada keagunganKu, menahan syahwatnya dari perbuatan haram laranganKu dan tidak terus-menerus (ngotot) bermaksiat terhadapKu, memberi makan kepada yang lapar dan memberi pakaian orang yang telanjang, mengasihi orang yang terkena musibah dan menampung orang asing. Semua itu dilakukan karena Aku.” “Demi keagungan dan kebesaranKu, sesungguhnya bagiKu cahaya wajahnya lebih bersinar dari matahari dan Aku menjadikan kejahilannya kesabaran (kebijaksanaan) dan menjadikan kegelapan terang, dia berdoa kepada-Ku dan Aku mengabulkannya, dia mohon dan Aku memberikannya dan dia mengikat janji dengan-Ku dan Aku tepati (perkokoh) janjinya. Aku lindungi dia dengan pendekatan kepadanya dan Aku menyuruh para Malaikat menjaganya. BagiKu dia sebagai surga Firdaus yang belum tersentuh buahnya dan tidak berobah keadaannya.” (HR. Ad-Dailami)

18. Nabi Saw ditanya tentang shalat, “Bagaimana shalat yang paling afdol?” Beliau menjawab, “Berdiri yang lama.” (HR. Muslim)

19. Rasulullah Saw apabila berdiri sesudah ruku’ (’itidal) beliau membaca:

“Allah mendengar siapa yang memujiNya. Ya Allah Robb kami. Seluruh pujian bagimu sepenuh langit- langit, bumi dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki sesudahnya. Engkaulah yang patut disyukuri dan dipuji. Engkaulah yang paling layak diucapkan seorang hamba dan kami semua adalah hambaMu. Ya Allah, tidak ada pencegah bagi pemberianMu dan tidak memberi apabila Engkau menolaknya dan tidak berguna kebesaran seorang kecuali dengan kebesaran dari sisiMu. (HR. Muslim)

20. Nabi Saw bila mendengar seruan azan, beliau menirukan kata-kata dan seruannya. (HR. Ath-Thahawi)

21. Barangsiapa mengucapkan (do’a) setelah mendengar suara muazzin:

“Ya Allah, Robb seruan (azan) yang sempurna ini dan shalat yang ditegakkan, karuniakanlah kepada Muhammad derajat dan kemuliaan yang tinggi dan kedudukan yang terpuji yang Engkau janjikan untuknya.” Maka patut baginya memperoleh syafaat (ku) pada hari kiamat. (HR. Bukhari)

22. Maukah aku beritahu apa yang dapat menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat?” Para sahabat menjawab: “Baik ya Rasulullah.” Beliau berkata, “Berwudhu dengan baik, menghilangkan kotoran-kotoran, banyak langkah diayunkan menuju mesjid, dan menunggu shalat (Isya) sesudah shalat (Maghrib). Itulah kewaspadaan (kesiagaan).” (HR. Muslim)

Penjelasan:
Kesiagaan dan persiapan untuk menghadapi perang fi sabilillah untuk membuka (menguasai) Mekah.

23. Sebaik-baik shaf (barisan) laki-laki adalah yang paling depan dan yang terburuk ialah barisan paling akhir. Namun seburuk-buruk barisan wanita adalah yang paling depan dan yang terbaik ialah yang paling belakang. (HR. Muslim)

24. Barangsiapa mengimami suatu kaum lalu mengkhususkan do’a untuk dirinya, maka dia telah mengkhianati mereka. (HR. Aththusi)

25. Rapikan barisanmu, sesungguhnya merapikan barisan termasuk mendirikan shalat. (HR. Ibnu Hibban)

26. Shalat jama’ah pahalanya melebihi shalat sendiri-sendiri dengan dua puluh tujuh derajat. (Mutafaq’alaih)

27. Apabila seorang mengimami orang-orang hendaklah meringankan shalat karena di antara mereka terdapat anak-anak, orang tua, yang lemah, yang sakit clan yang punya hajat (keperluan), dan bila shalat sendirian dapat ia lakukan sesukanya. (HR. Bukhari)

28. Tiga orang yang diridhoi Allah yaitu seorang yang pada tengah malam bangun dan shalat, suatu kaum (jama’ah) yang berbaris untuk shalat dan suatu kaum berbaris untuk berperang (fisabilillah). (HR. Abu Ya’la)

29. Barangsiapa berjamaah dalam shalat subuh dan Isya maka baginya dua kebebasan, yaitu kebebasan dari kemunafikan dan kebebasan dari kemusyrikan. (Abu Hanifah)

30. Ada empat orang tidak diwajibkan shalat jum’at yaitu wanita, budak, orang yang sakit dan musafir (bepergian). (Abu Hanifah)

31. Apabila kamu menegur kawanmu saat imam berkhotbah pada shalat jum’at dengan ucapan: “dengarkan”, maka pahala shalat jum’atmu menjadi batal. (HR. Bukhari dan Muslim)

Penjelasan:

Ketika khatib sedang berkhotbah maka kita harus diam mendengarkan serta tidak boleh berbicara, kendatipun menegur orang lain yang sedang berbicara atau mengobrol dengan ucapan “Diamlah!” atau “Dengarkanlah!”.

32. Barangsiapa meninggalkan shalat jum’at karena meremehkannya tanpa suatu alasan maka Allah Tabaroka wata’ala akan mengunci hatinya. (HR. Bukhari dan Muslim)

33. Paling afdol (utama) shalat seorang (adalah) di rumahnya kecuali (shalat) yang fardhu (lima waktu). (HR. Bukhari dan Muslim)

34. Hati manusia kadangkala maju dan kadangkala mundur. Apabila sedang mengalami kemajuan shalatlah nawafil (sunah ba’diyah, qobliyah dan tahajjud) dan bila sedang mengalami kemunduran shalatlah yang fardhu-fardhu saja (lima waktu). (Ath-Thahawi)

35. Barangsiapa sesudah shalat (fardhu) mengucapkan zikir “Subhanallah” (Maha Suci Allah) 33 kali dan “Alhamdulillah” (Segala puji bagi Allah) 33 kali dan “Allahu Akbar” (Allah Maha Besar) 33 kali lalu digenapkan yang keseratusnya dengan (membaca):

“Laailaaha illallah wahdahu la syariika lahu, lahulmulku walahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai’in Qodir” (Tidak ada Tuhan kecuali Allah yang Maha Esa yang tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nyalah segala kekuasaan dan pujian. Dan Dia atas segala sesuatu Maha Kuasa), maka akan terampuni dosa-dosanya (walaupun) sebanyak buih di lautan. (HR. Muslim)

36. Rasulullah Saw berkata kepada Muadz Ra, “Ya Muadz, jangan meninggalkan sehabis tiap shalat ucapan:”

“Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat Engkau dan banyak bersyukur kepada-Mu dan beribadah kepada-Mu dengan baik.” (HR. An-Nasaa’i dan Abu Dawud)

37. Perbanyaklah sujud kepada Allah, sesungguhnya bila sujud sekali Allah akan mengangkatmu satu derajat dan menghapus satu dosamu. (HR. Muslim)

38. Diberitahukan kepada Nabi Saw bahwa si Fulan shalat semalam suntuk tetapi pada pagi harinya dia mencuri. Lalu beliau menjawab, “Kelak shalatnya akan mencegahnya dari perbuatan mencuri.” (HR. Ath-Thahawi)

39. Tiga orang yang shalatnya tidak sampai melampaui telinganya, yaitu seorang budak yang melarikan diri sampai dia pulang kembali, seorang isteri yang semalaman suaminya murka kepadanya, dan seorang imam yang mengimami suatu kaum sedangkan kaum itu tidak menyukainya. (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

40. Apabila seorang shalat hendaklah mengenakan pakaian rangkap. Sesungguhnya Allah lebih berhak (dihadapi) dengan keindahan pakaian. (HR. Ath-Thabrani)

41. Rasulullah Saw bila menghadapi suatu dilema (situasi yang sukar dan membingungkan) beliau shalat. (HR. Ahmad)

43. Malaikat selalu berpesan kepadaku tentang shalat tengah malarn sehingga aku mengira bahwa umatku yang terbaik ialah yang sedikit tidurnya. (Abu Hanifah)

44. Rasulullah Saw apabila bangun tengah malam untuk shalat malam (Tahajjud) beliau mengucapkan:

“Tidak ada Tuhan kecuali Engkau. Maha suci Engkau, ya Allah, aku mohon ampunanMu atas dosaku dan aku mohon rahmatMu. Ya Allah, tambahlah ilmu bagiku dan jangan Engkau memalingkan hatiku setelah Engkau memberiku hidayah (petunjuk) dan karuniakanlah dari sisimu rahmat. Sesungguhnya Engkau Maha pemberi rahmat.” (HR. Abu Dawud)

45. Umatku yang termulia ialah penghafal Al Qur’an dan yang selalu shalat tengah malam (tahajud). (HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)

Penjelasan:
Hamalatul Qur’an artinya penghafal Qur’an, memahami artinya, sekaligus mengajarkan dan mengamalkan isinya.

42. Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar dengan sengaja maka Allah akan menggagalkan amalannya (usahanya). (HR. Bukhari)

Sumber: 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) – Dr. Muhammad Faiz Almath – Gema Insani Press


Persoalan Persoalan Pribadi

22 Februari, 2011

1. Ambillah kesempatan lima sebelum lima: mudamu sebelum tua, sehatmu sebelum sakit, kayamu sebelum melarat, hidupmu sebelum mati, dan senggangmu sebelum sibuk. (HR. Al Hakim dan Al-Baihaqi)

2. Pandanglah orang yang di bawah kamu dan janganlah memandang kepada yang di atasmu, karena itu akan lebih layak bagimu untuk tidak menghina kenikmatan Allah untukmu. (HR. Muslim)

3. Sesungguhnya persoalan-persoalan itu ada tiga macam,
yaitu persoalan yang jelas bagimu kebenarannya maka ikutilah,
persoalan yang jelas bagimu sesatnya maka jauhilah,
dan persoalan yang terdapat perselisihan di dalamnya maka serahkanlah (kembalikan penentuan hukumnya) kepada yang alim (ilmuwan). (HR. Ath-Thabrani)

4. Buta yang paling buruk ialah buta hati. (HR. Asysyihaab)

5. Sesungguhnya Allah melampaui ketentuan bagiku dengan (memaafkan) umatku dalam kesalahan yang tidak disengaja, karena lupa, dan karena dipaksa melakukannya. (HR. Ibnu Majah)

6. Usia umatku antara enam puluh dan tujuh puluh tahun. Sedikit dari mereka yang melampauinya. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

7. Mungkin pelampiasan nafsu syahwat sebentar berakibat kesedihan yang lama. (HR. Al-Baihaqi)

Keterangan:

Banyak kasus yang terjadi, gara-gara melampiaskan nafsu syahwat dengan berzina lalu hamil, maka hal tersebut menimbulkan trauma yang dalam dan berkepanjangan bagi sang wanita. Orang tua dan keluarga menjadi sedih dan malu. Juga akibat-akibat buruk lainnya yang dapat terjadi diluar perkiraan.

8. Rasulullah bersabda dengan membawakan firman Allah dalam hadits Qudsi: “Pandangan mata adalah panah beracun dari antara panah-panah Iblis. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada-Ku maka Aku ganti dengan keimanan yang dirasakan manis dalam hatinya.” (HR. Al Hakim)

9. Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Ketika aku sakit, Rasulullah datang menjenguk dan aku berkata, “Ya Rasulullah, bolehkah aku mewakafkan seluruh hartaku?”
Nabi Saw menjawab, “Tidak.”
Aku bertanya lagi, “Separonya?”,
Nabi menjawab, “Tidak.”
Aku bertanya lagi, “Sepertiganya?”
Beliau menjawab, “Meninggalkan keluargamu dalam keadaan baik (senang) lebih baik daripada membiarkan mereka miskin mengemis pada orang-orang.” (HR. Bukhari)

Keterangan:

Batas maksimum wasiat adalah sepertiga dari seluruh hartanya, karena sepertiga itu sudah banyak.

10. Barangsiapa bernazar untuk mentaati Allah, hendaklah dia mentaatiNya dan barangsiapa bernazar untuk bermaksiat terhadap Allah maka janganlah ia melakukannya. (HR. Bukhari)

11. Mimpi yang baik (sholeh) adalah dari Allah dan mimpi (buruk) adalah dari setan. (Bukhari)

12. Sesungguhnya yang dimaksud nazar ialah apa yang diharapkan dengannya keridhoan Allah ‘Azza wajalla. (HR. Ahmad)

13. Mimpi yang paling benar ialah (yang terjadi) menjelang waktu sahur (sebelum fajar). (HR. Al Hakim dan Tirmidzi)

14. Hak seorang muslim yang memiliki harta (peninggalan untuk diwasiatkan) ialah tidak melampaui dua malam kecuali wasiatnya sudah tertulis dan sudah ditangannya. (HR. Muslim)

15. Mimpi yang baik oleh seorang yang sholeh merupakan satu dari empat puluh enam bagian dari mimpi kenabian. (HR. Bukhari)

16. Apabila Allah memberikan kenikmatan kepada seseorang hendaknya dia pergunakan pertama kali untuk dirinya dan keluarganya. (HR. Muslim)

17. Hendaklah kamu bertakwa kepada Allah. Jika seseorang membongkar keburukan yang diketahuinya pada dirimu janganlah kamu membongkar keburukan yang kamu ketahui ada pada dirinya. (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Sumber: 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) – Dr. Muhammad Faiz Almath – Gema Insani Press


Makanan dan Minuman

22 Februari, 2011

1. Sesungguhnya Allah baik dan tidak mengabulkan (menerima) kecuali yang baik-baik.
Allah menyuruh orang mukmin sebagaimana Dia menyuruh kepada para rasul, seperti firmanNya dalam surat Al Mukminun ayat 52:
“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan-makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal yang shaleh.”

Allah juga berfirman dalam surat Al Baqarah 172: “Hai orang-orang yang beriman makanlah di antara rezeki yang baik-baik.”
Kemudian Rasulullah menyebut seorang yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut dan wajahnya kotor penuh debu menadahkan tangannya ke langit seraya berseru: “Ya Robbku, Ya Robbku”, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dia diberi makan dari yang haram pula. Jika begitu bagaimana Allah akan mengabulkan doanya? (HR. Muslim)

2. “Wahai Sa’ad, perbaikilah (murnikanlah) makananmu, niscaya kamu menjadi orang yang terkabul do’anya. Demi yang jiwa Muhammad dalam genggamanNya. Sesungguhnya seorang hamba melontarkan sesuap makanan yang haram ke dalam perutnya maka tidak akan diterima amal kebaikannya selama empat puluh hari. Siapapun yang dagingnya tumbuh dari yang haram maka api neraka lebih layak membakarnya”
(HR. Ath-Thabrani)

3. Janganlah kamu memberi makanan yang kamu sendiri tidak suka memakannya. (HR. Ahmad)

4. Sesungguhnya termasuk pemborosan bila kamu makan apa saja yang kamu bernafsu memakannya.
(HR. Ibnu Majah)

5. Rasulullah Saw berkata kepada Umar bin Abi Salamah,
“Wahai anak, ucapkanlah Bismillah dan makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari apa yang ada di hadapanmu”. (HR. Bukhari)

6. Orang yang paling kenyang makan di dunia akan menjadi paling lama lapar pada hari kiamat. (HR. Al Hakim)

7. Apabila kamu lupa menyebut “Bismillah” pada awal makan hendaklah mengucapkan:
“Bismillah pada awal dan akhirnya”. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

8. Apabila diserukan untuk makan malam lalu terdengar suara azan oleh muazin maka dahulukan makan malam. (Abu Hanifah)

Keterangan:

Hal ini berlaku khusus untuk shalat Isya karena waktunya panjang.

9. Hidangan makanan untuk dua orang seharusnya cukup untuk tiga orang
dan makanan untuk tiga orang cukup untuk empat orang. (HR. Bukhari)

10. Barangsiapa makan bawang putih atau bawang merah
hendaklah menjauhi kita atau menjauhkan diri dari masjid kita dan sebaiknya tinggal di rumahnya. (HR. Bukhari)

Keterangan:

Sesungguhnya malaikat merasa terganggu dengan bau bawang merah dan bawang putih sebagaimana manusia pun merasa terganggu dengan bau tersebut. Namun jika bau tersebut bisa hilang, misalnya dengan gosok gigi dengan pasta gigi atau berkumur dengan zat penghilang bau, maka diperbolehkan untuk ke masjid dan berkumpul dengan kaum muslimin lainnya.

11. Dinginkanlah makanan, sesungguhnya yang panas-panas tidak ada berkahnya. (HR. Al Hakim dan Ad-Dailami)

12. Thariq bin Suwaid Ra bertanya kepada Nabi Saw tentang khamar (arak) dan beliau melarangnya.
Lalu Thariq berkata, “Aku hanya menjadikannya campuran untuk obat.”
Lalu Nabi Saw berkata lagi, “Itu bukan obat tetapi penyakit.” (HR. Ahmad)

13. Rasulullah Saw melarang orang meniup-niup makanan atau minuman. (HR. Abu Dawud)

Keterangan:
Meniup-niup makanan dan minuman yang panas biasa dilakukan dengan tujuan agar lekas dingin, dan hal ini dilarang oleh Nabi. Hendaknya makanan atau minuman tersebut didiamkan saja atau didinginkan dengan metode lainnya selain dengan meniup langsung dengan mulut, misalnya dengan fan (kipas angin).

14. Tidak ada susu yang lebih baik (unggul) daripada air susu ibunya (ASI). (HR. Ar-Ridha)

15. Rasulullah Saw melarang kami minum dan makan dengan perkakas makan dan minum dari emas dan perak. Beliau juga melarang kami berpakaian sutera dan yang dibordir dengan benang sutera dengan sabdanya, “Itu untuk kaum musyrikin di dunia dan untuk kamu di akhirat. (Mutafaq’alaih)

Keterangan:

Khusus untuk kaum wanita (muslimah) diperkenankan untuk menggunakan perhiasan dari emas dan perak, serta memakai pakaian sutera dan pakaian yang dibordir dengan sutera (yang terdapat suteranya), namun hal tersebut diharamkan untuk kaum pria (muslimin). Khusus untuk kaum pria yang mempunyai penyakit gatal-gatal (penyakit exim) yang umumnya sering menggaruk-garuk pada kulit yang gatal tersebut, maka menggunakan pakaian sutera diperbolehkan untuk mereka. Hal tersebut pernah dialami oleh Zubair dan Abdurrahman bin ‘Auf, dan Rasulullah pun mengizinkannya.

16. Bertamu itu hanya tiga hari lamanya dan pemberian bekal perjalanan bagi tamu hanya untuk sehari semalam. Tidak halal bagi seorang muslim bertamu di rumah saudaranya semuslim sehingga menyebabkannya berdosa. Para sahabat bertanya, “Bagaimana sampai menyebabkan yang ditamui (tuan rumah) berdosa?” Nabi menjawab: “Dia bertamu sedang yang ditamui hampa tidak punya sesuatu apapun untuk disuguhkan kepada tamunya”. (HR. Ahmad)

17. Rasulullah Saw melarang orang yang minum dengan membalik mulut kendi langsung ke mulutnya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Keterangan:

Dilarang minum langsung dari tempat minum yang digunakan oleh banyak orang, misal minum langsung dari galon, poci, teko dan wadah-wadah lainnya. Hendaknya dituangkan dulu ke dalam gelas, lalu meminumnya dari gelas tersebut.

Sumber: 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) – Dr. Muhammad Faiz Almath – Gema Insani Press


Wudhu

22 Februari, 2011

Barangsiapa berwudhu dengan baik keluarlah dosa-dosanya dari jasadnya sampaipun dari bawah kuku-kukunya. (HR. Muslim)

 

2. Seorang yang selesai berwudhu dengan baik lalu mengucapkan dua kalimat syahadat, maka akan terbuka baginya pintu-pintu surga yang delapan dan dia dapat memasuki pintu yang mana saja dia kehendaki. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

3. Nabi Saw melihat Sa’ad yang sedang berwudhu, lalu beliau berkata, “Pemborosan apa itu, hai Sa’ad?” Sa’ad bertanya, “Apakah dalam wudhu ada pemborosan?” Nabi menjawab, “Ya, meskipun kamu (berwudhu) di sungai yang mengalir.” (HR. Ahmad)

4. Akan terdapat dalam umat ini suatu kaum yang berlebih-lebihan dalam berwudhu dan berdo’a. (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)

5. Umatku akan tampil pada hari kiamat dengan wajah bersinar, tangan serta kakinya berkilauan dari bekas-bekas wudhu. (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim)

Sumber: 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) – Dr. Muhammad Faiz Almath – Gema Insani Press


Kesabaran Menghadapi Problem Keluarga

22 Februari, 2011

Ditengah usia perkawinannya terbilang muda, baru berusia tiga tahun dan memiliki bayi mungil, dirinya sudah merasakan kesulitan dalam berkomunikasi dengan sang istri. Seorang teman di Rumah Amalia, dia mengatakan bahwa setiap kali berbincang dengan istri selalu saja berakhir dengan pertengkaran. Kesulitan itu terjadi sejak usia perkawinan menginjak enam bulan pertama, disaat istri sedang hamil muda. Pada bersamaan dia juga mendapatkan promosi jabatan di kantornya. Konsekwensi dari promosi jabatan menyebabkan banyak hal harus dikerjakan, pulang larut malam, perjalanan tugas kantor secara rutin. Semua itu menyebabkan pertengkaran sering karena istri merasa tidak lagi mendapatkan perhatiannya.

Bahkan pernah sang istri mencoba untuk bunuh diri, sejak peristiwa itu dia selalu mengalah & khawatir bila istri melakukan perbuatan nekad yang dilarang oleh agama. Sampai dia harus meminta izin kepada atasannya untuk mengurangi tugas keluar kota dan lebih mengutamakan untuk mengantar istri atau menjemput dari kantornya. Namun upaya yang dilakukan menjadi terasa sia-sia, ternyata istri semakin menunjukkan sikap yang berlebihan, takut ditinggal bahkan istrinya menjadi mudah sekali untuk mengungkit kembali permasalahan yang telah lalu. Pertengkaran inilah yang membuat dirinya menjadi marah. Sampai tidak tahu apa yang harus dilakukan. ‘Mas Agus Syafii, saya sudah lelah dengan kehidupan. Apa yang harus saya lakukan agar istri merubah sikapnya & komunikasi bisa menjadi lebih baik? Tuturnya sore itu pada saya di Rumah Amalia.

Saya kemudian menjelaskan padanya bahwa tekanan hidup seperti di kota Jakarta, dari pagi ketika di jalan raya sudah berhadapan dengan kemacetan, tentunya sangat melelahkan, juga pekerjaan dengan berbagai tekanan sekaligus tanggungjawab di dalam rumah tangga. Tekanan seperti ini yang terjadi terus menerus bukan hanya melelahkan juga sekaligus kita tidak mampu untuk berpikir jernih. dalam melihat persoalan. Suatu keadaan kita seperti berputar-putar di gang buntu. Proses transisi dari cuman berdua, kemudian memiliki bayi mungil ditambah dengan karier yang cemerlang dibutuhkan penyesuaian. Bukan hanya suami yang harus menyesuaikan namun juga istri mesti menyesuaikan diri. Dalam masa transmisi inilah terjadilah kesulitan komunikasi. Kesulitan komunikasi semakin membesar karena memang tidak pernah mempersiapkan diri untuk melewati perubahan ini.

Perkawinan pada dasarnya ada tiga fase, fase pairing, parenting & partnering. Fase pairing tantangannya mengenal pasangan yang dihadapkan dengan mengejar karier. Dalam rumah tangganya fase pairing belum berlalu tapi sudah memasuki Fase parenting yaitu menjadi orang tua karena sudah memiliki sang buah hati. Seiring waktu pertumbuhan anak, dirinya dan istri dibutuhkan kondisi partnering dalam pengasuhan. Jadi, saya menyarankan padanya sebaiknya yang dilakukan adalah memantapkan pasa awal sebuah perkawinan yaitu pairing dengan mengenal istrinya, jangan pernah bosan untuk juga mengajak istri untuk lebih mengenal dirinya. Melakukan aktifitas ibadah dengan sholat berjamaah di dalam keluarga menjadi upaya untuk mencairkan komunikasi yang beku. Selesai sholat berjamaah kemudian belajar membaca al-quran bersama menjadi keluarga indah & bahagia. Lakukanlah dengan sabar, bahwa dirinya juga harus memahami istri yang juga sedang dalam kondisi tertekan sama seperti dia. Dalam perannya sebagai istri sekaligus ibu tentunya sangatlah tidaklah mudah. Perkawinan merupakan proses belajar yang tidak pernah berhenti. Sebuah perkawinan kita diberikan kesempatan untuk belajar menjadi matang & mendewasakan, pasangan hidup kita merupakan cermin yang terbaik dalam membantu kita untuk tumbuh & berkembang.

‘Hai orang2 yang beriman, mintalah pertolongan (kpd Allah) dengan sabar dan sholat, sesungguhnya Allah bersama orang2 yang sabar.’ (QS. al- Baqarah : 153).

posted by :agussyafii

Read more: http://agussyafii.blogspot.com/#ixzz1EdbYZcTk

Wanita pertama masuk syurga sebelum anak Rasulullah S.A.W

21 Februari, 2011

Siti Fatimah adalah anak Rasulullah yang mempunyai budi pekerti yang baik dan beliau amat taat kepada ajaran Islam dan sifat-sifatnya sama seperti bapanya yakni Nabi Muhammad S.A.W. Pada suatu hari ketika Rasulullah sedang bercerita tentang kenikmatan syurga kepada Siti Fatimah, maka baginda pun bersabda, “Aduhai anakandaku, ada seorang perempuan kebanyakan (orang biasa) yang akan masuk syurga lebih dahulu daripadamu”.
Mendengar sahaja kata-kata ayahandanya itu, maka berubahlah air mukanyaa lantas menangis dan berkata, “Siapakah perempuan itu wahai ayahanda? Macam mana halnya dan bagaimana pula amalannya sehingga dia dapat lebih dahulu masuk ke dalam syurga daripada anakanda? Ayahanda, khabarkanlah di mana dia sekarang”.
Lalu Rasulullah S.A.W bersabda, “Dia adalah seorang wanita yang miskin, tinggal di Jabal Uhud, kira-kira 3 batu dari Madinah”. Tanpa membuang masa, Siti Fatimah pun keluar pergi mencari perempuan yang dikatakan masuk syurga terlebih dahulu daripadanya. Setelah dia sampai ke rumah perempuan itu, lalu dia mengetuk pintu sambil memberi salam.
Perempuan yang Rasulullah maksudkan itu membuka pintu dan bertanyakan hajat Siti Fatimah datang ke sana tanpa menjemputnya masuk ke dalam rumah. Siti Fatimah berkata, “Saya datang ke mari kerana hendak berjumpa dan berkenalan dengan awak”. Perempuan itu menjawab, “Terima kasih cik, tetapi saya tidak dapat membenarkan cik masuk kerana suami saya tidak ada di rumah. Nanti saya minta izin apabila dia balik nanti. Silalah datang pada esok hari”.
Dengan perasaan sedih dan dukacita Siti Fatimah pulang kerana tak dapat masuk dan bercakap panjang dengan perempuan itu. Esoknya dia kembali lagi ke rumah perempuan itu dengan membawa anaknya yang bernama Hasan. Apabila tiba di pintu rumah perempuan tersebut dan hendak dipersilakan masuk, tiba-tiba perempuan itu melihat ada budak bersama-sama Siti Fatimah, lalu dia berkata, “Ini siapa?”. Anakanda Rasulullah menjawab, “Ini anak saya, Hasan”. Perempuan itu lantas berkata, “Saya dukacita kerana saya belum meminta izin untuk anak ini masuk dari suami saya”.
Siti Fatimah jadi serba salah lalu dia pun balik kembali ke rumahnya. Esoknya Siti Fatimah datang lagi ke rumah perempuan itu tapi kali ini dia membawa kedua-dua anaknya iaitu Hasan dan Husin. Perempuan ahli syurga itu terkejut melihat ada seorang budak lagi yang belum diminta izin dari suaminya untuk masuk ke dalam rumah. Siti Fatimah tersipu malu lalu dia balik dengan perasaan hampa.
Dalam perjalanan pulang, hatinya berkata-kata, “Perempuan ini sangat takut kepada suaminya, sehingga perkara yang begini pun dia tak berani melakukannya. Pada hal jika dia membenarkan aku masuk, takkan suaminya marah? Tak usahlah pandang aku ini siapa dan dua budak ni cucu siapa, pandanglah kepada tetamu dan orang jauh sudahlah” bisik hatinya sambil menangis teresak-esak.
Sebaik sahaja suami kepada perempuan itu pulang, perempuan itu memberitahu perihal budak yang seorang lagi yang dibawa oleh Siti Fatimah. Sumainya yang terkejut dan hairan pun berkata, “Kenapa awak tahan sampai begitu sekali? Bukankah Siti Fatimah itu puteri Rasulullah S.A.W dan dua orang anaknya itu cucu baginda. Lebih daripada itu pun awak patut benarkan kerana keselamatan kita berdua kelak bergantung pada keredhaan Rasulullah. Jangan awak buat seperti itu lagi, jika dia membawa sesiapa pun, terimalah mereka dengan baik dan hormatlah mereka semua”.
Isterinya menyahut, “Baiklah, tetapi maafkanlah kesalahan saya kerana saya mengerti bahawa keselamatan diri saya ini bergantung pada keredhaan awak, suami saya. Oleh itu saya tak berani membuat perkara yang akan membawa kemarahan atau menyakiti hati awak”. “Terima Kasih” sahut suaminya.
Pada hari seterusnya, Siti Fatimah datang lagi dengan membawa dua orang puteranya. Setelah diterima masuk dan dijamu dengan buah kurma dan air, mereka pun memulakan perbualan. Dalam pada itu, perempuan itu berjalan ke arah muka pintu rumahnya sambil memandang ke arah jalan seolah-olah sedang menantikan kedatangan seseorang dengan tak berepa memperdulikan Siti Fatimah. Sambil itu Siti Fatimah melihat di tangan perempuan itu terdapat sebatang tongkat dan sebuah bekas berisi air manakala tangan yang sebelah lagi menangkat hujung kain sehingga menampakkan betis dan pehanya dan mukanya penuh dengan senyuman yang manis.
Melihat keadaan sebegitu rupa dengan perasaan resah kerana tidak diperdulikan lalu Siti Fatimah bertanya, “Mengapa jadi begini?” Perempuan itu menyahut, “Cik, harap maafkan saya kerana saya sedang menantikan kepulangan suami saya”. “Buat apa dengan bekas air itu?” tanya Siti Fatimah. Jawab perempuan itu, “Kiranya suami saya dahaga pada ketika dia balik, saya akan segera menghulurkan air ini kepadanya supaya tak terlambat. Jika terlambat nanti dia akan marah”.
Kemudian Siti Fatimah bertanya lagi, “Buat apa pula tongkat itu?” Perempuan itu menjawab, “Jika suami saya marah, mudahlah dia memukul saya dengan tongkat ini”. Siti Fatimah bertanya lagi, “Kenapa pula awak selak kain awak sehingga menampakkan aurat, bukankah itu haram?” Maka perempuan itu berkata, “Jika dia berkehendakkan saya, lalu dia pandang saya begini tentulah menambahkan syahwat dan nafsunya yang memudahkan kepada maksudnya”.
Selesai sahaja perempuan itu menjawab segala pertanyaannya, Siti Fatimah termenung dan hairan lalu dia berkata, “Jika begini kelakuan dan perangainya terhadap suaminya, tidak dapatlah aku mengikutnya. Patutlah dia masuk ke syurga dahulu daripada aku serta wanita-wanita lain. Ternyata benarlah bahawa keselamatan seorang perempuan yang bersuami itu bergantung pada ketaatan dan keredhaan suami terhadapnya”.
Sambil teresak-esak menangis dan menitis air matanya, Siti Fatimah meminta izin untuk pulang dan dia segera mengadap ayahandanya Rasulullah S.A.W lalu berkata, “Anakanda berasa sangat sedih dan lemah segala sendi kerana tak dapat meniru dan melakukan sebagaimana perangai dan amalan perempuan yang ayahanda maksudkan itu”.
Sebaik sahaja Rasulullah S.A.W mendengar rintihan puterinya lalu baginda bersabda sambil tersenyum, “Anakanda, janganlah susah hati, perempuan yang anakanda jumpa itu ialah perempuan yang akan memimpin dan memegang tali ras kendali tunggangan anakanda tatkala masuk ke syurga. Jadi dialah yang masuk terlebih dahulu”. Setelah mendengar penjelasan itu, barulah Siti Fatimah tersenyum ketawa.
——————————————–
Dari kisah yang aku ceritakan di atas, korang dapat lihat bahawa ketaatan seorang isteri kepada suaminya adalah sangat penting dalam institusi rumah tangga. Oleh itu kepada semua wanita yang bergelar isteri, sahutlah seruan cerita ini dan taatlah serta berbuat baiklah kepada suami korang, nescaya korang akan diredhai oleh suami. Fikirkanlah sejenak, di mana kedudukan korang sekarang di sisi Allah kerana keredhaan Allah adalah keredhaan suami korang. Ingin aku titipkan juga di sini suatu ayat yang pernah aku dengar yang bermaksud:
Selangkah anak perempuan keluar dari rumah tanpa menutup aurat, maka selangkah juga ayahnya itu hampir ke neraka. Selangkah seorang isteri keluar rumah tanpa menutup aurat, maka selangkah juga suaminya itu hampir ke neraka.